Situs Dewasa Sex Ngentot Gadis

Situs Dewasa Sex Ngentot Gadis

Situs Dewasa Sex Ngentot Gadis

Situs Dewasa Sex Ngentot Gadis, Bandar 99, cerita dewasa, Agen Sakong Kiu, cerita hot, cerita ngentot, cerita sex, cerita gadis sexy, cerita mesum, cerita abg, ceritap porno, memek hot cewek jilbab, Cerita Sex Hot, Cerita Sex Dewasa, Indo Seks Hot Gadis Mulus, cerita basah, cerita hot, cerita dewasa jilbab, cerita sex tante, komik dewasa

Situs Dewasa Sex Ngentot Gadis

Situs Dewasa Sex Ngentot Gadis – Aku ialah seorang mahasiswa tingkat akhir di perguruan tinggi di Bandung, dan kini sudah tingkat akhir. Untuk ketika ini aku tidak menemukan mata kuliah lagi dan melulu mengerjakan skripsi saja. Oleh karena tersebut aku tidak jarang main ke lokasi abangku di Jakarta. Bandar 99

Suatu hari aku ke Jakarta. Ketika aku hingga ke lokasi tinggal kakakku, aku menyaksikan ada tamu, rupanya ia ialah teman kuliah kakakku masa-masa dulu. Aku diluncurkan kakakku kepadanya. Rupanya ia paling ramah kepadaku. Usianya 40 tahun dan sebut saja namanya Firman. Ia juga mengundangku guna main ke rumahnya dan diluncurkan pada anak-istrinya. Istrinya, Dian, 7 tahun lebih muda darinya, dan putrinya, Rina, duduk di ruang belajar 2 SMP.

Setelah 3 hari di rumahnya, sebuah kali aku kembali dari lokasi tinggal kakakku, sebab aku tidak ada kegiatan apapun dan aku pun mengarah ke rumah Firman. Aku juga bersantai dan lantas menyalakan VCD. Selesai satu film. Saat menyaksikan rak, di unsur bawahnya kulihat sejumlah VCD porno. Karena memang sendirian, aku juga menontonnya. Sebelum berakhir satu film, tiba-tiba tersiar pintu depan dibuka. Aku juga tergopoh-gopoh mematikan televisi dan membubuhkan pembungkus VCD di bawah karpet.

“Hallo, Oom Aang..!” Rina yang baru masuk tersenyum.
“Eh, bantu dong bayarin Bajaj.. duit Rina sepuluh-ribuan, abangnya nggak terdapat kembalinya.”
Aku tersenyum mengangguk dan terbit membayarkan Bajaj yang hanya dua ribu rupiah.

Saat aku masuk kembali.., pucatlah wajahku! Rina duduk di karpet di depan televisi, dan mengobarkan kembali video porno yang sedang separuh jalan. Dia memandang kepadaku dan tertawa geli.
“Ih! Oom Aang! Begitu, tho, caranya..? Rina tidak jarang diceritain temen-temen di sekolah, namun belon pernah liat.”
Gugup aku menjawab, “Rina.. anda nggak boleh nonton itu! Kamu belum lumayan umur! Ayo, matiin.”
“Aahh, Oom Aang. Jangan gitu, dong! Tu, liat.

Bandar 99

Tak tahu lagi apa yang mesti kukatakan, dan khawatir bila kularang Rina malah akan lapor pada orangtuanya, aku juga ke dapur menciptakan minum dan tidak mempedulikan Rina terus menonton. Dari dapur aku duduk-duduk di beranda belakang menyimak majalah.

Sekitar jam 7 malam, aku terbit dan melakukan pembelian makanan. Setelah makanan siap, aku memanggil Rina. Dan.., sekali lagi astaga.. jelas ia tidak menggunakan BH, sebab puting susunya yang menjulang membayang di dasternya. Aku semakin gelisah sebab penisku yang tadi telah mulai “bergerak”, kini benar-benar menegak dan mengganjal di celanaku.

Selesai makan, saat membasuh piring berdua di dapur, kami berdiri bersampingan, dan dari celah di dasternya, buah dadanya yang estetis mengintip. Saat ia membungkuk, puting susunya yang merah muda kelihatan dari celah itu. Aku semakin gelisah. Selesai membasuh piring, kami berdua duduk di sofa di ruang keluarga.

Mia meloncat dari sofa dan berjuang mencubiti lenganku. Aku mengelak dan menangkis, namun ia terus menyerang seraya tertawa, dan.. tersandung!

Ia jatuh ke dalam pelukanku, membelakangiku. Lenganku merangkul dadanya, dan ia duduk tepat di atas batang kelelakianku! Kami megap-megap dalam posisi itu. Bau bedak bayi dari kulitnya dan bau shampo rambutnya membuatku kian terangsang. Dan aku juga mulai menciumi lehernya. Rina mendongakkan kepala seraya memejamkan mata, dan tanganku juga mulai meremas kedua buah dadanya.

Aku segera mengulum puting susunya yang merah muda, berganti-ganti kiri dan kanan sampai dadanya basah mengkilap oleh ludahku. Tangan Rina yang membelai belakang kepalaku dan erangannya yang tersendat membuatku kian tak sabar. Aku unik lepas celana dalamnya, dan.. nampaklah bukit kemaluannya yang baru ditumbuhi rambut jarang. Bulu yang sedikit tersebut sudah nampak mengkilap oleh cairan kemaluan Rina. Aku juga segera menenggelamkan kepalaku ke tengah kedua pahanya.

Ketika aku berhenti menjilat dan mengulum, Rina terbaring terengah-engah, matanya terpejam.

Bandar 99

Tergesa aku membuka seluruh pakaianku, dan kemaluanku yang tegak teracung ke langit-langit, kubelai-belaikan di pipi Rina.
“Mmmhh.. mmhh.. oohhmm..,” saat Rina membuka bibirnya, kujejalkan kepala kemaluanku.
Mungkin film tadi masih diingatnya, jadi ia juga mulai menyedot. Tanganku berganti-ganti meremas dadanya dan mengelus kemaluannya.

Segera saja kemaluanku basah dan mengkilap. Tak tahan lagi, aku juga naik ke atas tubuh Rina dan bibirku melumat bibirnya. Aroma kemaluanku terdapat di mulut Rina dan wewangian kemaluan Rina di mulutku, bertukar ketika lidah kami saling membelit.

Dengan tangan, kugesek-gesekkan kepala kemaluanku ke celah di selangkangan Rina, dan sebentar lantas kurasakan tangan Rina mengurangi pantatku dari belakang.
“Ohhmm, mam.. msuk.. hh.. msukin.. Omm.. hh.. ehekmm..”
Perlahan kemaluanku mulai menempel di bibir liang kemaluannya, dan Rina semakin mendesah-desah. Segera saja kepala kemaluanku kutekan, namun gagal saja sebab tertahan sesuatu yang kenyal. Aku juga berpikir, apakah lubang sekecil ini bakal dapat menampung kemaluanku yang besar ini. Terus cerah saja, ukuran kemaluanku ialah panjang 15 cm, lebarnya 4,5 cm sementara Rina masih SMP dan ukuran lubang kemaluannya terlampau kecil.

Tetapi dengan desakan nafsu yang besar, aku juga berusaha. Akhirnya usahaku juga berhasil. Dengan satu sentakan, tembuslah halangan itu. Rina memekik kecil, dahinya mengernyit menyangga sakit. Kuku-kuku tangannya memegang erat kulit punggungku. Aku mengurangi lagi, dan terasa ujung kemaluanku membentur dasar sebenarnya baru 3/4 kemaluanku yang masuk. Lalu aku diam tidak bergerak, tidak mempedulikan otot-otot kemaluan Rina terbiasa dengan benda yang terdapat di dalamnya.

Lewat sejumlah waktu, gerakan pinggul Rina kian menggila dan ia juga membungkukkan tubuhnya dan bibir kami berlumatan. Tangannya menjambak rambutku, dan kesudahannya pinggulnya menyentak berhenti. Terasa cairan hangat membalur semua batang kemaluanku.

Bandar 99

Setelah tubuh Rina melemas, aku mendorong ia telentang. Dan seraya menindihnya, aku memburu puncakku sendiri. Ketika aku menjangkau klimaks, Rina tentu menikmati siraman air maniku di liangnya, dan ia juga mengeluh lemas dan menikmati orgasmenya yang ke dua.

Sekian lama kami diam terengah-engah, dan tubuh kami yang basah kuyup dengan keringat masih saling bergerak bergesekan, menikmati sisa-sisa kesenangan orgasme.
“Aduh, Oom.. Rina lemes. Tapi enak banget.”
Aku melulu tersenyum sambil mengelus rambutnya yang halus. Satu tanganku lagi terdapat di pinggulnya dan meremas-remas. Kupikir tubuhku yang lelah telah terpuaskan, namun segera kurasakan kemaluanku yang sudah melemas bangkit kembali diapit liang vagina Rina yang masih amat kencang.

Aku segera membawanya ke kamar mandi, mencuci tubuh kami berdua dan.. pulang ke kamar melanjutkan babak berikutnya. Sepanjang malam aku menjangkau tiga kali lagi orgasme, dan Rina.. entah berapa kali. Begitupun di ketika bangun pagi, sekali lagi kami bergumul penuh kesenangan sebelum kesudahannya Rina kupaksa menggunakan seragam, sarapan dan berangkat ke sekolah.

Maringi Balesan

Alamat email Sampéyan ora dijedulne utāwā dikatonke. Ros sing kudu diisi ānā tandané *