Situs Dewasa Sex Diperkosa Om

Situs Dewasa Sex Diperdosa Om

Situs Dewasa Sex Diperdosa Om

Situs Dewasa Sex Diperdosa Om, Bandar 99, cerita dewasa, Agen Sakong Kiu, cerita hot, cerita ngentot, cerita sex, cerita gadis sexy, cerita mesum, cerita abg, ceritap porno, memek hot cewek jilbab, Cerita Sex Hot, Cerita Sex Dewasa, Indo Seks Hot Gadis Mulus, cerita basah, cerita hot, cerita dewasa jilbab, cerita sex tante, komik dewasa

Situs Dewasa Sex Diperdosa Om

Situs Dewasa Sex Diperdosa Om – Namaku Karina, usiaku 17 tahun dan aku ialah anak kedua dari pasangan Menado-Sunda. Kulitku putih, tinggi selama 168 cm dan berat 50 kg. Rambutku panjang sebahu dan ukuran dada 36B. Dalam keluargaku, seluruh wanitanya rata-rata berbadan laksana aku, sampai-sampai tidak laksana gadis-gadis beda yang menginginkan tubuh yang estetis sampai rela berdiet ketat. Di family kami malah makan apapun tetap segini-segini saja. Bandar 99

Suatu senja dalam perjalanan kembali sehabis pelajaran cheers di sekolah. Aku diajak ayah mengirimkan surat-surat urgen ke lokasi tinggal temannya yang biasa dipanggil Om Robert. Kebetulan rumahnya memang melalui rumah kami sebab letaknya di perumahan yang sama di kompleks elit unsur selatan Jakarta.

Om Robert ini meski usianya telah di akhir kepala 4, tetapi wajah dan gayanya masih laksana anak muda. Habis di samping ganteng dan rambutnya tidak banyak beruban, badannya pun tinggi tegap dan hobinya berenang serta tenis. Ayah kenal dengannya semenjak semasa kuliah dulu, oleh sebab tersebut kami cukup dekat dengan keluarganya.

Kedua anaknya sedang kuliah di Amerika, sedang istrinya aktif di pekerjaan sosial dan tidak jarang pergi ke pesta-pesta. Ibu sering disuruh oleh si Tante Mela. Istri Om Robert ini, tetapi ibu tidak jarang kali menolak sebab dia lebih senang di rumah.

Ciumannya kian buas, dan sekarang Om Robert turun ke leher dan menciumku di sana. Sambil berciuman, tanganku meraih pengikat kimono Om Robert dan membukanya. Tanganku mencari dadanya yang bidang dan bulu-bulunya yang lebat, lantas mengecupnya lembut. Sementara tersebut tangan Om Robert pun tidak inginkan kalah bergerak membelai celana dalamku dari luar, lantas ke atas lagi dan meremas payudaraku yang telah gatal sejak tadi.

Aku melenguh agak keras dan Om Robert pun kian giat meremas-remas dadaku yang montok itu. Perlahan dia ciuman dan aku mempedulikan dia melepas kaosku dari atas.

Bandar 99

Kini aku duduk melulu mengenakan bra hitam dan rok cheersku itu. Om Robert memandangku tidak berkedip. Kemudian dia bergerak cepat melumat pulang bibirku dan seraya french kissing, tangannya melepas kaitan bra-ku dari belakang dengan tangannya yang cekatan.

Kini dadaku benar-benar telanjang bulat. Aku masih merasa mengherankan karena baru kali ini aku telanjang dada di depan lelaki yang bukan pacarku. Om Robert mulai meremas kedua payudaraku bergantian dan aku memilih guna memejamkan mata dan merasakan saja. Tiba-tiba aku merasa putingku yang telah tegang dampak nafsu tersebut menjadi basah, dan ternyata Om Robert sedang asyik menjilatnya dengan lidahnya yang panjang dan tebal. Uh.., jago sekali dia melumat, mencium, menarik-narik dan menghisap-hisap puting kiri dan kananku.

Tanpa kusadari, aku pun menerbitkan erangan yang cukup keras, dan tersebut malah semakin menciptakan Om Robert bernafsu.
“Oom.. aah.. aah..!”
“Rin, anda kok seksi banget sih..? Om suka banget sama badan kamu, bagus banget. Apalagi ini..” godanya seraya memelintir putingku yang kian mencuat dan tegang.
“Ahh.., Om.. gelii..!” balasku manja.

“Sshh.. tidak boleh panggil ‘Om’, kini panggil ‘Robert’ aja ya, Rin. Kamu kan udah gede..” ujarnya.
“Iya deh, Om.” jawabku badung dan Om Robert juga sengaja memelintir kedua putingku lebih keras lagi.
“Eeeh..! Om.. eh Robert.. geli aah..!” kataku seraya sedikit cemberut tetapi dia tidak membalas malahan menghirup bibirku mesra.

Entah kapan tepatnya, Om Robert sukses meloloskan rok dan celana dalam hitamku, yang tentu tahu-tahu aku telah telanjang bulat di atas meja dapur tersebut dan Om Robert sendiri telah melepas celana renangnya, melulu tinggal menggunakan kimononya saja. Kini Om Robert menunduk dan jilatannya pindah ke selangkanganku yang sengaja kubuka selebar-lebarnya supaya dia dapat menyaksikan isi vaginaku yang merekah dan berwarna merah muda.

Bandar 99

Kemudian lidah yang hangat dan basah tersebut pun pindah ke atas dan mulai mengerjai klitorisku dari atas ke bawah dan begitu terus berulang-ulang sampai aku merintih tidak tertahan.
“Aeeh.. uuh.. Rob.. aawh.. ehh..!”
Aku melulu dapat membelai dan menjambak rambut Om Robert dengan tangan kananku, sedang tangan kiriku berjuang berpegang pada atas meja guna menopang tubuhku supaya tidak jatuh ke depan atau ke belakang.

Badanku terasa mengejang serta cairan vaginaku terasa mulai meleleh terbit dan Om Robert juga menjilatinya dengan cepat hingga vaginaku terasa kering kembali. Badanku lantas direbahkan di atas meja dan dibiarkannya kakiku menjuntai ke bawah, sedang Om Robert melebarkan kedua kakinya dan siap-siap memasukkan penisnya yang besar dan telah tegang dari tadi ke dalam vaginaku yang pun sudah tidak sabar ingin ditembus olehnya.

Tidak lama lantas badanku diperosotkan ke bawah dari atas meja dan diputar menghadap ke depan meja, membelakangi Om Robert yang masih berdiri tanpa menarik keluar penisnya dari dalam vaginaku. Diputar begitu rasanya cairanku menetes ke sela-sela paha kami dan gesekannya benar-benar nikmat.

Kini posisiku membelakangi Om Robert dan dia juga mulai menggenjot lagi dengan gaya doggie style. Badanku menunduk ke depan, kedua payudara montokku menggantung bebas dan ikut berayun-ayun masing-masing kali pinggul Om Robert maju mundur. Aku juga ikut memutar-mutar pinggul dan pantatku. Om Robert mempercepat gerakannya seraya sesekali meremas gemas pantatku yang semok dan putih itu, kemudian beralih ke depan dan menggali putingku yang sudah paling tegang dari tadi.

“Awwh.. lebih keras Om.. pentilnya.. puterr..!” rintihku dan Om Robert serta merta meremas putingku lebih keras lagi dan tangan satunya bergerak menggali klitorisku.
Kedua tanganku berpegang pada ujung meja dan kepalaku menoleh ke belakang menyaksikan Om Robert yang sedang merem melek keenakan.

Bandar 99

Gila rasanya tubuhku banjir keringat dan nikmatnya tangan Om Robert di mana-mana yang menggerayangi tubuhku.

Putingku diputar-putar kian keras seraya sesekali payudaraku diremas kuat. Klitorisku digosok-gosok kian gila, dan hentakan penisnya terbit masuk vaginaku kian cepat. Akhirnya orgasmeku mulai lagi. Bagai terpapar badai, tubuhku mengejang powerful dan lututku lemas sekali. Begitu pun dengan Om Robert, kesudahannya dia ejakulasi pun dan memuncratkan spermanya di dalam vaginaku yang hangat.

“Aaah.. Riin..!” erangnya.
Om Robert mencungkil penisnya dari dalam vaginaku dan aku berlutut lemas seraya bersandar di samping meja dapur dan menata napasku. Om Robert duduk di sebelahku dan kami sama-sama masih megap-megap setelah peperangan yang seru tadi.

“Sini Om..! Karin bersihin sisanya tadi..!” ujarku sambil menunduk dan menjilati sisa-sisa cairan cinta tadi di dekat selangkangan Om Robert.
Om Robert melulu terdiam sambil membelai rambutku yang telah acak-acakan. Setelah bersih, gantian Om Robert yang menjilati selangkanganku, lantas dia mengoleksi pakaian seragamku yang berceceran di lantai dapur dan mengantarku ke kamar mandi.

Di dalam mobil, supirku yang barangkali heran melihatku tersenyum-senyum sendirian menilik kejadian tadi juga bertanya.
“Non, kok lama amat sih nganter amplop doang..? Ditahan dulu yah Non..?”
Sambil menyangga tawa aku juga berkata, “Iya Pak, dikasih ‘wejangan’ pula..”
Supirku melulu dapat memandangku dari kaca spion dengan pandangan tidak memahami dan aku melulu membalasnya dengan senyuman rahasia. He..he..he..

Maringi Balesan

Alamat email Sampéyan ora dijedulne utāwā dikatonke. Ros sing kudu diisi ānā tandané *